Zelensky-Trump Memanas soal Energi, Trump Minta Mundur

Dunia

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mundur setelah Zelensky mengkritik rencana pasokan solar Rusia ke AS. Zelensky menilai kesepakatan itu berisiko memberi Moskow dana untuk melanjutkan perang, sementara Trump menyebut serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia turut menimbulkan masalah bagi pasar energi.

Ketegangan keduanya kembali mencuat pada Sabtu, 10 Oktober 2026, di tengah langkah Trump menangguhkan sementara sanksi terhadap pasokan besar solar Rusia. Zelensky menanggapi desakan Trump dengan menegaskan bahwa pemimpin Ukraina dipilih oleh rakyatnya. Ia juga menyatakan pemilihan umum dapat digelar jika Rusia menyetujui gencatan senjata selama 60 hari.

Trump kritik serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia

Zelensky sebelumnya memperingatkan bahwa kesepakatan baru untuk memasukkan jutaan ton diesel Rusia ke AS dapat menjadi sumber dana bagi Moskow. Ia menyebut langkah tersebut sebagai hadiah bagi Presiden Rusia Vladimir Putin, karena Rusia masih berperang dengan Ukraina.

Trump merespons kritik itu dengan membela kebijakan yang menurutnya dibutuhkan untuk meredakan tekanan harga bahan bakar. Ia juga mempersoalkan serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia. “Kami bilang, ‘Anda boleh melakukan apa saja terhadap Rusia, tapi jangan serang kilang-kilang minyaknya’, karena hal itu menimbulkan masalah bagi dunia,” kata Trump.

Trump mengatakan Zelensky sebenarnya dapat membuat banyak kesepakatan, tetapi tidak melakukannya. Saat berbicara di luar Gedung Putih pada Sabtu, ia menyatakan, “Sudah saatnya Ukraina memiliki presiden baru.” Trump kemudian menegaskan Zelensky sebaiknya berhenti dari jabatannya.

Persoalan energi itu berlangsung ketika pasokan bahan bakar dunia, termasuk diesel, disebut terbatas. Perang yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran telah menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar seperlima produk minyak dunia. Di saat bersamaan, Ukraina meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi dan fasilitas transportasi Rusia, yang semakin menekan pasar energi.

Zelensky: pemilu bergantung pada gencatan senjata

Dalam wawancara dengan ABC News, Zelensky menjawab desakan Trump dengan mengatakan bahwa keputusan mengenai pemimpin Ukraina berada di tangan warga negara itu. “Dengan segala hormat kepada Presiden Trump, terserah pada masyarakat kami, terserah pada rakyat kami untuk memilih pemimpin yang satu atau yang lainnya,” ujarnya.

Zelensky mengatakan telah menyampaikan kepada pihak Trump bahwa Ukraina bisa menggelar pemilu pertamanya sejak invasi Rusia jika Moskow bersedia menghentikan pertempuran secara total selama 60 hari. Ia meminta agar Presiden Rusia Vladimir Putin diberi tuntutan gencatan senjata dengan durasi tersebut.

Ia juga menegaskan Ukraina siap melakukan gencatan senjata, termasuk yang terbatas pada infrastruktur energi, apabila Rusia menyetujuinya. Namun, menurut Zelensky, serangan Rusia dalam sepekan terakhir menunjukkan bahwa Moskow belum merasakan tekanan nyata untuk mengakhiri perang.

Zelensky menyebut serangan besar-besaran Rusia menghantam infrastruktur sipil Ukraina. Ia mengatakan sektor energi diserang 196 kali, terutama jaringan listrik, sementara sektor gas dan minyak mengalami 20 serangan. Dalam keterangannya, ia juga menyebut 153 warga sipil telah tewas sejauh ini.

Dukungan AS jadi perhatian Kyiv

Langkah Trump menangguhkan sementara sanksi minyak Rusia menuai reaksi keras dari Ukraina dan sejumlah sekutu AS di Eropa. Kebijakan itu juga mendapat kritik dari sebagian kalangan Partai Republik. Di tengah perbedaan tersebut, Zelensky berharap perselisihan terbaru tidak merusak persatuan negara-negara yang mendukung Ukraina.

“Untuk menghentikan Putin—dan menurut saya inilah tujuan utamanya, menghentikan dia, inilah hal yang paling penting, menghentikan perang ini—kami mengandalkan dukungan Amerika,” kata Zelensky kepada ABC News. Ia menambahkan Ukraina juga mengandalkan mitra-mitra Eropa dan berharap hubungan antara Eropa dan AS tetap terjaga.

Di sisi Rusia, utusan Putin Kirill Dmitriev menyebut intervensi Trump sebagai sesuatu yang “ikonik dan bersejarah”. Ia mengatakan Ukraina membutuhkan kepemimpinan yang berfokus pada perdamaian. Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana polemik pasokan energi dan seruan pergantian pemimpin ikut bersinggungan dengan upaya mengakhiri perang.

Untuk saat ini, usulan pemilu yang disampaikan Zelensky bergantung pada kesediaan Rusia menerima gencatan senjata 60 hari. Sementara itu, Kyiv masih menyatakan membutuhkan dukungan AS dan Eropa, sehingga arah kebijakan Washington terhadap energi Rusia akan menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam perkembangan konflik berikutnya.