Dolar Singapura Naik ke Rp 14.131, Rupiah Tertekan

Ekonomi

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Singapura dan ringgit Malaysia pada Kamis (22/10). Data Investing menunjukkan dolar Singapura berada di level Rp 14.131,70, sementara ringgit menguat hingga Rp 4.421. Pergerakan itu terjadi ketika rupiah juga tertekan terhadap dolar Amerika Serikat.

Dolar Singapura naik 0,10 persen atau 13,74 poin terhadap rupiah. Pada awal perdagangan, mata uang tersebut dibuka di Rp 14.117,96. Hingga penutupan, SGD diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp 14.084,99 hingga Rp 14.133,11.

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 18.047 pada pukul 10.25 WIB. Data Bloomberg mencatat dolar AS menguat 25 poin atau 0,14 persen terhadap rupiah. Pada pembukaan, dolar AS sudah naik 0,09 persen ke Rp 18.039, dari penutupan sebelumnya di Rp 18.022.

Dolar Singapura dan ringgit menguat terhadap rupiah

Ringgit Malaysia mencatat penguatan lebih besar pada perdagangan pagi itu. Mata uang Malaysia tersebut naik 3,05 persen terhadap rupiah hingga mencapai Rp 4.421. Dalam perbandingan jangka lebih pendek, ringgit menguat 0,70 persen secara mingguan dan 0,88 persen secara bulanan.

Data tersebut memperlihatkan tekanan rupiah tidak hanya terjadi terhadap mata uang utama seperti dolar AS. Rupiah juga kehilangan nilai terhadap sejumlah mata uang regional, termasuk dolar Singapura dan ringgit. Namun, angka kurs dapat berbeda bergantung pada sumber data dan waktu pencatatan; angka yang dikutip dalam laporan ini merujuk pada data Investing dan Bloomberg.

Pergerakan pada Kamis itu berlangsung di tengah perhatian pasar terhadap faktor eksternal. Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti sebelumnya menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen global, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham.

BI soroti sentimen global dan arus modal

Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Rabu (21/10/2026), Destry menyampaikan rupiah pada 20 Oktober 2026 berada di Rp 17.985 per dolar AS. Posisi itu melemah 0,61 persen secara point-to-point dibandingkan dengan akhir September 2026.

“Perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan moneter di Amerika Serikat yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham,” kata Destry.

Tekanan terhadap rupiah, menurut penjelasan tersebut, berkaitan dengan kombinasi perkembangan global dan arus investasi. Ketegangan geopolitik dapat memengaruhi sikap investor, sementara kebijakan moneter AS yang lebih ketat menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Sentimen investor asing di pasar saham juga disebut ikut memengaruhi pergerakan mata uang domestik.

Meski demikian, BI menyatakan akan terus berupaya menjaga stabilitas rupiah. Bank sentral berencana mengoptimalkan instrumen moneter, memperkuat insentif untuk mendorong masuknya modal asing, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.

Upaya menjaga stabilitas rupiah

Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat aliran investasi portofolio asing sekaligus mendukung pasar keuangan domestik. BI juga menekankan pentingnya pendalaman pasar uang dan valas sebagai bagian dari upaya menghadapi tekanan dan menjaga stabilitas nilai tukar.

Perkembangan kurs dolar Singapura dan ringgit pada Kamis menjadi gambaran tekanan yang sedang dihadapi rupiah di pasar. Dalam beberapa waktu ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada sentimen global dan respons kebijakan, sementara BI menyatakan tetap menggunakan instrumen yang dimiliki untuk menjaga kestabilan rupiah.