Hunter’s Moon 2026: Jadwal Purnama dan Asal-usulnya

Sains

Hunter’s Moon atau Bulan Pemburu akan menghiasi langit pada malam 25 Oktober hingga dini hari 26 Oktober 2026. Purnama Oktober ini dapat mulai diamati di Jakarta dan sekitarnya setelah bulan terbit pukul 17.29 WIB, meski pada awal kemunculannya posisinya masih dekat dengan garis horizon.

Bagi warga yang ingin menyaksikan piringan Bulan dengan lebih jelas, waktu pengamatan yang disarankan adalah mulai pukul 20.00 WIB. Saat itu, Bulan sudah naik lebih tinggi dari horizon. Purnama akan mencapai puncaknya pada pukul 23.39 WIB.

Jadwal Hunter’s Moon di Jakarta

Informasi waktu terbit dan puncak purnama tersebut merujuk pada data BMKG. Bulan dijadwalkan terbit pukul 17.29 WIB di Jakarta dan sekitarnya pada 25 Oktober. Namun, kedekatannya dengan horizon membuat Bulan masih sulit terlihat tepat setelah terbit.

Karena itu, pengamatan tidak perlu dilakukan terburu-buru pada saat Bulan muncul. Waktu sekitar pukul 20.00 WIB menjadi pilihan untuk mulai melihatnya, ketika piringan Bulan telah berada lebih tinggi. Puncak purnama berlangsung pada pukul 23.39 WIB, sebelum pengamatan berlanjut hingga dini hari 26 Oktober.

Waktu tersebut memberi gambaran kapan fenomena berlangsung, sekaligus membantu pengamat menentukan saat yang lebih tepat untuk menengadah ke langit. Perbedaan posisi Bulan antara awal terbit dan beberapa jam setelahnya menjadi alasan mengapa purnama belum tentu langsung mudah diamati begitu muncul di horizon.

Asal-usul nama Bulan Pemburu

Julukan Hunter’s Moon berasal dari tradisi penamaan purnama yang berkembang dari pengamatan budaya, kegiatan pertanian, dan alam di Amerika Utara pada masa lalu. Nama-nama purnama digunakan untuk menandai waktu dan pergantian musim. Hunter’s Moon secara khusus dikaitkan dengan musim berburu sebelum musim dingin tiba.

Penjelasan yang dikutip dari The Old Farmer’s Almanac menyebut purnama ini biasanya muncul berdekatan dengan masa ketika para petani telah menyelesaikan panen. Setelah ladang dipanen, orang-orang berburu hewan untuk menyiapkan persediaan menjelang musim dingin.

Cahaya Bulan yang terang juga memiliki manfaat praktis dalam kegiatan tersebut. Ladang yang telah dipangkas dan sinar purnama membuat hewan liar lebih mudah terlihat, sehingga perburuan dapat berlanjut hingga larut malam. Dalam konteks itu, nama Hunter’s Moon bukan sekadar sebutan untuk purnama Oktober, tetapi juga mencerminkan kegiatan masyarakat pada musim tertentu.

Tradisi di balik nama purnama

Menurut penjelasan Astronomy, nama-nama tradisional bagi purnama umumnya berakar pada cara masyarakat mengamati alam dan menandai kegiatan sehari-hari. Sebutan tersebut membantu menghubungkan fase Bulan dengan perubahan musim serta aktivitas seperti bercocok tanam dan berburu.

Hunter’s Moon menjadi salah satu contoh bagaimana peristiwa langit diberi nama berdasarkan kebutuhan dan pengalaman manusia. Purnama yang terang memiliki arti khusus bagi masyarakat yang mengandalkan alam untuk memenuhi kebutuhan, termasuk ketika mereka perlu berburu setelah masa panen berakhir.

Rujukan Space yang mengutip The Old Farmer’s Almanac juga menekankan hubungan antara waktu purnama, selesainya panen, dan persiapan menghadapi musim dingin. Jadi, asal-usul nama ini berkaitan dengan rangkaian kegiatan musiman, bukan semata-mata dengan penampilan Bulan di langit.

Waktu terbaik menikmati purnama Oktober

Untuk menyaksikan Hunter’s Moon pada 2026, pengamat di Jakarta dapat mencatat rentang malam 25 Oktober hingga dini hari 26 Oktober. Bulan terbit pada 17.29 WIB, tetapi pengamatan lebih optimal mulai sekitar pukul 20.00 WIB karena posisinya sudah lebih tinggi. Puncak purnama terjadi pukul 23.39 WIB.

Jadwal ini juga menunjukkan bahwa fenomena berlangsung melintasi dua tanggal kalender. Dengan memperhatikan waktu terbit dan puncaknya, pengamat dapat merencanakan waktu melihat Bulan tanpa berharap piringannya langsung mudah terlihat saat baru muncul. Hunter’s Moon menghadirkan kesempatan untuk menikmati purnama sekaligus mengenal cerita musim yang melatarbelakangi namanya.