Pemilu Sela AS 2026 Uji Loyalitas Partai Republik

Dunia

Pemilu sela Amerika Serikat 2026 berpotensi menjadi ujian bagi Partai Republik, terutama bagi para politikus yang masih berpaut pada Donald Trump. Persaingan di Texas, negara bagian yang lama dikuasai Republik, menjadi salah satu pertarungan yang paling diperhatikan. Hasilnya dapat memberi petunjuk tentang arah partai setelah era Trump.

CNBC Indonesia melaporkan Demokrat diperkirakan berpeluang merebut empat kursi bersih yang diperlukan untuk menguasai DPR. Namun, peluang mereka di Senat dinilai lebih sulit. Sejumlah persaingan di negara bagian yang pada 2024 memilih Trump dengan selisih besar kini ikut diperebutkan, seiring rendahnya tingkat persetujuan terhadap Trump dan tekanan ekonomi yang dikaitkan dengan perang Iran.

Texas jadi ujian bagi strategi Republik

Di Texas, James Talarico, mantan guru sekolah negeri, menantang Ken Paxton, jaksa agung negara bagian dari Partai Republik. Persaingan ini berlangsung di wilayah yang belum memilih politikus Demokrat untuk jabatan tingkat negara bagian sejak 1994, menurut laporan CNBC Indonesia.

Kontes tersebut diperkirakan menjadi salah satu pertarungan Senat termahal dalam sejarah. Paxton merupakan sekutu Trump dan menghadapi berbagai tuduhan, termasuk perkara korupsi, skandal pribadi, serta penipuan sekuritas. Dukungan dana dari kelompok Republik yang dipimpin Elon Musk dilaporkan mencapai 300 juta dollar AS atau lebih dari Rp 5,4 triliun.

Meski sumber dana besar mengalir ke kubu Republik, Talarico disebut unggul tipis dalam sebagian besar jajak pendapat. Analis politik Jacobs menilai hasil di Texas dapat menjadi sinyal bagi tokoh Republik mengenai strategi yang akan mereka pilih, termasuk dalam isu imigrasi dan pendekatan terhadap pemilih.

“Texas adalah referendum yang menghancurkan bagi Donald Trump.”

Pernyataan Jacobs itu merujuk pada besarnya arti pertarungan Texas bagi Trump. Kekalahan Paxton, menurut analisis yang dikutip CNBC Indonesia, bisa dibaca sebagai peringatan bahwa dukungan kepada Trump saja belum tentu cukup untuk mengamankan kemenangan di negara bagian tersebut.

Perebutan Senat meluas ke Ohio dan Michigan

Di Ohio, Sherrod Brown kembali maju sebagai kandidat Demokrat untuk menghadapi Jon Husted, senator petahana dari Republik. Brown berusaha menggalang dukungan dengan mengangkat keresahan pekerja terhadap harga bahan bakar dan penutupan pabrik. Ia juga menyoroti penolakan warga setempat terhadap pembangunan pusat data.

Michigan menghadirkan persaingan berbeda. Mike Rogers menjadi kandidat Republik, sementara Demokrat mengusung Abdul El-Sayed, dokter berusia 41 tahun yang berupaya menjadi senator Muslim pertama di Amerika Serikat. Rogers dan pendukungnya menyerang rekam jejak pernyataan El-Sayed mengenai kebijakan luar negeri. Kelompok super PAC pro-Israel juga dilaporkan mengeluarkan jutaan dolar untuk menentangnya.

Trump pernah menyebut El-Sayed sebagai “jihadis”, menurut bahan yang dilaporkan CNBC Indonesia. Bagi kelompok progresif Demokrat, hasil pencalonan El-Sayed dapat menjadi tolok ukur kekuatan mereka. Namun, pakar politik Kamarck mengingatkan bahwa kaum progresif merupakan bagian kecil dari partai tersebut, sehingga hasil satu kontes tidak serta-merta menggambarkan kekuatan seluruh Demokrat.

Collins dan Peltola menghadapi medan berbeda

Di Maine, Susan Collins berusaha mempertahankan kursinya dari tantangan Troy Jackson. Senator Republik itu mengambil jarak dari Trump dan tampil bersama Joe Manchin, mantan senator independen. Kontes ini menambah tekanan bagi Republik di luar negara bagian yang selama ini menjadi pusat perhatian.

Sementara itu, Mary Peltola bersiap menantang senator Republik Dan Sullivan di Alaska. Persaingan tersebut disertai sengketa hukum setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat berupaya menghalangi sertifikasi yang memenangkan Peltola. Kubu Peltola juga membantah terlibat dalam perekrutan kandidat bernama Dan Sullivan yang, menurut laporan, dimaksudkan untuk membingungkan pemilih.

Perselisihan itu berlangsung saat integritas pemilu kembali menjadi perhatian. Klaim Trump tentang kecurangan pemilu yang tidak didukung bukti mendorong Demokrat dan organisasi hak pilih menyiapkan tim hukum. Pemerintah menyatakan pemantau pemilu federal akan bertindak sesuai aturan, sekaligus membantah rencana pengerahan militer atau petugas imigrasi ke tempat pemungutan suara.

Dengan persaingan DPR dan Senat bergerak di banyak negara bagian, hasil pemilu sela akan menentukan seberapa besar ruang politik yang dimiliki masing-masing partai. Persaingan Texas, khususnya, akan menjadi salah satu hasil yang dinanti untuk membaca daya tahan dukungan kepada Trump dan strategi Republik ke depan.