Memasuki musim hujan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengingatkan warga agar mewaspadai leptospirosis, demam berdarah dengue (DBD), dan diare. Pencegahan dimulai dari kebersihan rumah dan lingkungan, sementara warga yang mengalami keluhan tak kunjung membaik diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.
Perhatian khusus diberikan pada leptospirosis. Dinas Kesehatan mencatat 27 kasus di Kota Yogyakarta sejak Januari hingga 28 Oktober 2026. Angka itu lebih rendah daripada catatan tahun sebelumnya, yakni 34 kasus. Meski demikian, penyakit yang ditularkan bakteri Leptospira ini tetap perlu diantisipasi.
Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Anandi Iedha Retnani, menjelaskan bakteri dapat menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus. Risiko muncul ketika urine mencemari air atau tanah, lalu masuk ke tubuh melalui luka atau bagian kulit yang rentan.
Kebersihan lingkungan menekan risiko leptospirosis
Karena itu, pengendalian tikus menjadi salah satu bagian pencegahan. Warga dianjurkan mengelola sampah dengan baik, menyimpan makanan dan minuman dalam keadaan tertutup, serta tidak membiarkan barang bekas menumpuk. Benda yang masih dapat digunakan bisa ditata atau dimanfaatkan kembali agar tidak menjadi tempat tikus bersarang.
Orang yang beraktivitas di area berisiko juga perlu melindungi diri. Jika ada kemungkinan bersentuhan dengan air atau tanah yang tercemar urine tikus, gunakan sepatu bot dan sarung tangan. Luka terbuka sebaiknya ditutup, lalu tangan dan kaki dibersihkan dengan sabun setelah kegiatan.
Gejala awal leptospirosis tidak selalu mudah dibedakan dari penyakit lain. Keluhan dapat berupa demam, nyeri otot terutama pada betis, pegal-pegal, sakit kepala, serta tubuh terasa lemah. Karena tanda-tandanya bisa dianggap sebagai sakit biasa, warga diminta tidak menunda pemeriksaan jika memiliki gejala dan riwayat aktivitas yang berisiko.
Pada keadaan yang lebih serius, mata dapat terlihat merah atau menguning dan urine berubah gelap seperti teh. Anandi mengingatkan warga agar mencari pertolongan sebelum kondisi memburuk. “Jangan menunggu sampai kondisi semakin parah,” ujarnya. Tenaga kesehatan dapat menilai keluhan dan aktivitas pasien untuk menentukan pemeriksaan lanjutan.
Gerakan 4M Plus untuk mencegah DBD
Untuk menekan risiko DBD, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu, mendorong penerapan gerakan 4M Plus secara rutin. Upaya itu mencakup menguras dan menutup penampungan air, memilah atau memanfaatkan barang bekas, serta membersihkan talang.
Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi tempat yang dapat menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Pemeriksaan lingkungan rumah perlu menjadi kebiasaan, termasuk memastikan wadah air tertutup dan tidak membiarkan barang bekas menampung air hujan. Upaya ini perlu dilakukan berulang, bukan hanya ketika ada anggota keluarga yang sakit.
Pemkot Yogyakarta juga mengingatkan warga agar menjaga kebersihan makanan dan air minum untuk mencegah diare. Mencuci tangan dengan sabun, terutama sebelum makan dan setelah beraktivitas, menjadi kebiasaan yang perlu dijaga. Makanan dan minuman yang dikonsumsi juga harus terlindung dari kotoran.
Puskesmas menjadi tempat memperoleh edukasi dan pemeriksaan
Endang menyampaikan bahwa pencegahan penyakit berawal dari perilaku hidup bersih dan sehat, baik di rumah maupun saat warga beraktivitas di luar. Puskesmas turut memberikan edukasi melalui penyuluhan dan penyebaran informasi kesehatan. Warga dapat memanfaatkan layanan tersebut untuk memperoleh penjelasan mengenai langkah pencegahan.
Menjaga kebugaran juga menjadi bagian dari upaya kesehatan yang disarankan Dinas Kesehatan. Warga dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi, rutin melakukan aktivitas fisik, dan mengelola stres. Namun, upaya menjaga daya tahan tubuh tidak menggantikan pemeriksaan saat keluhan kesehatan muncul atau berlarut-larut.
Pemerintah Kota Yogyakarta meminta warga segera mengakses fasilitas kesehatan bila kondisi tidak membaik. Terutama bagi mereka yang mengalami gejala yang sesuai dengan leptospirosis setelah beraktivitas di lingkungan berisiko. Dinas Kesehatan tetap menyampaikan edukasi pencegahan melalui puskesmas.
