Video serangan Iran ke Camp Buehring, pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, memperlihatkan prajurit bergegas mencari perlindungan ketika rudal dan drone menghantam area tersebut pada awal perang. Rekaman yang diperoleh CBS News itu juga menunjukkan dampak ledakan, termasuk kerusakan pada bangunan dan peralatan militer.
Video tersebut direkam seseorang yang ditempatkan di Camp Buehring saat pangkalan itu menjadi sasaran. Kesaksian sejumlah sumber militer yang disampaikan kepada CBS News menggambarkan situasi genting di lokasi, ketika prajurit harus berlindung di bunker dan sebagian memilih meninggalkan pangkalan.
Rudal dan drone menghantam Camp Buehring
Menurut sumber CBS News, Iran mengerahkan rudal dan drone ke pangkalan tersebut pada awal perang. Serangan membuat para prajurit AS mencari perlindungan. Tiga anggota militer AS juga mengatakan kepada CBS bahwa jet tempur F-5 Iran dikerahkan dalam serangan itu.
Seorang saksi mata menggambarkan pesawat yang datang sangat dekat dengan posisi mereka. “Mereka datang dan sangat dekat dengan kami sampai saya bisa melihat helm mereka,” katanya. Ia kemudian mengatakan, “Mereka datang, menghantam kami, lalu pergi.”
Serangan itu tidak menewaskan tentara AS, tetapi sejumlah orang terluka. Kerusakan pada bangunan dan perlengkapan militer tampak dalam rekaman yang diperoleh CBS News. Video itu memberikan gambaran mengenai situasi di pangkalan ketika serangan terjadi, meski keterangan mengenai pengerahan jet F-5 berasal dari kesaksian tiga anggota militer AS.
Seorang sumber militer yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebut serangan berlangsung sangat keras. “Mereka menyerang kami dengan sangat parah,” ujarnya. Sumber yang sama mengatakan banyak orang tetap bertahan untuk bertempur, sementara pihak di luar pangkalan tidak mengetahui sepenuhnya apa yang terjadi.
Pasukan AS mundur karena posisi rentan
Sebelum serangan, sejumlah tentara AS memutuskan mundur dari Camp Buehring. Mereka tidak ingin mengambil risiko karena pangkalan itu berada cukup dekat dengan Irak. Minimnya persediaan amunisi juga menjadi salah satu alasan prajurit meninggalkan lokasi.
“Itu mengerikan. Ada banyak orang pemberani yang tetap tinggal untuk bertempur di sana. Orang-orang di rumah tidak tahu apa yang terjadi. Kami harus meninggalkan pangkalan,” kata sumber tersebut.
Camp Buehring terletak sekitar 25 mil dari perbatasan Irak. Sejumlah kelompok milisi di negara itu bersekutu dengan Iran. Selama lebih dari dua dekade, pangkalan tersebut menjadi tempat transit utama bagi pasukan AS yang dikerahkan ke berbagai wilayah Timur Tengah.
Sebelum perang, sekitar 7.000 prajurit berada di Camp Buehring. Namun, menurut sumber-sumber yang dikutip CBS News, sebagian besar personel telah dipindahkan ke lokasi lain sebagai bagian dari rencana Pentagon yang disebut “leaving X”. Istilah itu merujuk pada upaya menjauhkan pasukan dari posisi yang dinilai rentan terhadap serangan.
Lebih dari 100 tentara tetap berada di pangkalan
Meski banyak personel dipindahkan, lebih dari 100 tentara dilaporkan masih berada di Camp Buehring selama perang. Kondisi mereka disebut berisiko karena pangkalan kekurangan amunisi kaliber .50 dan persediaan penting lain, termasuk baterai untuk sistem rudal Patriot.
Prajurit yang meninggalkan pangkalan berkendara pada malam hari, menembus gurun Kuwait menuju lokasi terpencil yang kini menjadi pangkalan operasi garis depan AS. Perjalanan itu pun membawa risiko tersendiri. Dua tentara dilaporkan tersambar petir saat badai pasir melanda gurun; seorang mengalami luka bakar, sementara seorang lainnya mengalami pecah gendang telinga.
Komando Pusat AS (CENTCOM) belum memberikan komentar mengenai serangan di pangkalan Kuwait tersebut. Pentagon juga tidak menanggapi secara langsung dan merujuk pada pernyataan Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada 4 Maret.
“Saat kami membangun kekuatan tempur ofensif, kami memindahkan sebagian besar pasukan Amerika, yang lebih dari 90 persen merupakan warga Amerika, dalam operasi yang kami sebut X, yaitu keluar dari jangkauan tembakan Iran,” kata Hegseth kepada wartawan.
Rekaman dan kesaksian dari Camp Buehring memperlihatkan bagaimana serangan memengaruhi posisi pasukan AS di kawasan tersebut. Namun, tanpa keterangan resmi lebih lanjut dari CENTCOM maupun Pentagon, sejumlah rincian mengenai serangan masih bersumber pada saksi dan sumber militer yang dikutip CBS News.
