Harga Emas Turun, Pasar Cermati Suku Bunga The Fed

Ekonomi

Harga emas dunia melemah setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) memperkuat perkiraan bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini. Logam mulia itu kehilangan sebagian daya tariknya karena tidak memberikan imbal hasil, sementara instrumen berbunga berpotensi menjadi lebih menarik ketika biaya pinjaman naik.

Merujuk data Refinitiv yang dilaporkan CNBC Indonesia, emas ditutup di US$ 4.020,42 per troy ons pada Kamis, 29 Oktober 2026. Nilainya turun 1,15 persen sekaligus mengakhiri kenaikan yang berlangsung selama tiga sesi berturut-turut. Tekanan berlanjut pada Jumat pagi.

Pada pukul 06.52 WIB, harga emas tercatat US$ 4.011,47 per troy ons, turun 0,22 persen. Pergerakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa inflasi yang belum terkendali dapat membuat bank sentral AS mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, atau kembali menaikkan bunga pada Desember.

Inflasi PCE kembali menguat

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE), salah satu ukuran inflasi yang dipantau di AS, naik 0,5 persen secara bulanan pada September. Angka itu lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,3 persen pada Agustus. Biro Analisis Ekonomi AS mengaitkan kenaikan tersebut dengan harga bensin dan sejumlah barang lain.

Secara tahunan, inflasi PCE meningkat menjadi 3,6 persen pada September, dari 3,4 persen sebulan sebelumnya. Ukuran inti, yang tidak memasukkan sejumlah komponen tertentu, juga naik menjadi 3,1 persen dari 3 persen. Data terbaru itu memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga masih berada di atas sasaran bank sentral.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menilai prospek inflasi yang bertahan tinggi mendorong spekulasi mengenai kenaikan bunga pada pertemuan Desember. Ia mengatakan laporan PCE terbaru belum menghilangkan kegelisahan investor. Ekspektasi kebijakan tersebut menjadi salah satu tekanan utama bagi harga emas.

The Fed pada Rabu mempertahankan suku bunga acuannya, sesuai perkiraan pasar. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 80 persen untuk kenaikan bunga pada Desember. Bank sentral menunda perubahan biaya pinjaman hingga setelah pemilihan paruh waktu AS yang dijadwalkan berlangsung pekan berikutnya.

Perak jatuh lebih dalam

Tekanan pasar tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak ditutup pada US$ 52,39 per troy ons pada Kamis, merosot 2,85 persen. Penurunan itu memperpanjang pelemahan perak menjadi dua hari berturut-turut.

Pada Jumat pukul 06.52 WIB, perak kembali turun 0,9 persen ke US$ 51,92 per troy ons. Dengan penurunan harian yang lebih dalam daripada emas, perak mencatat pergerakan yang lebih tajam dalam perdagangan tersebut. Kedua logam sama-sama menghadapi tekanan dari perubahan perkiraan suku bunga, meski besaran koreksinya berbeda.

Emas tidak menghasilkan bunga atau kupon. Karena itu, ketika prospek imbal hasil instrumen berbunga meningkat, biaya peluang untuk menyimpan logam mulia ikut naik. Mekanisme ini membuat perubahan arah kebijakan moneter menjadi perhatian penting bagi investor emas.

Harga energi dan pemilu ikut dipantau

Perkembangan pasar energi juga dapat memengaruhi arah inflasi. Meger menyebut perubahan harga energi yang dipicu eskalasi atau meredanya ketegangan di Timur Tengah berpotensi berdampak pada logam mulia. Harga energi menjadi salah satu sumber kekhawatiran karena dapat menambah tekanan terhadap biaya hidup dan perkiraan inflasi.

Investor juga memantau pemilihan umum AS pada 3 November dan kemungkinan dampaknya terhadap kebijakan fiskal serta sentimen pasar. Dari Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga, tetapi memperingatkan risiko inflasi yang meningkat akibat lonjakan harga energi. Presiden ECB Christine Lagarde dijadwalkan mengakhiri masa jabatannya pada 7 Februari, menurut pernyataan bank tersebut.

Untuk pasar emas, perhatian berikutnya tertuju pada perkembangan inflasi dan keputusan The Fed pada Desember. Selama peluang kenaikan bunga masih tinggi, tekanan terhadap logam yang tidak memberikan imbal hasil berpotensi tetap menjadi pertimbangan investor.