Survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang digelar pada 1–10 Oktober 2026 menempatkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di posisi teratas dalam simulasi calon presiden. Dedi meraih dukungan 35,5 persen, jauh di atas Anies Baswedan yang memperoleh 10,3 persen dan Presiden Prabowo Subianto dengan 9,8 persen.
Temuan tersebut dipaparkan Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, dalam presentasi daring pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Survei menggunakan simulasi semi-terbuka dengan menyodorkan 24 nama tokoh kepada responden, yang juga dapat menyebut nama lain di luar daftar.
Di kelompok dengan dukungan satu digit, posisi Prabowo berdekatan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang memperoleh 8,4 persen. Sementara Purbaya Yudhi Sadewa dan Ganjar Pranowo masing-masing mencatat 5 persen. Sebanyak 13,9 persen responden belum menentukan pilihan atau tidak menjawab.
Dedi Mulyadi memimpin simulasi capres SMRC
Selisih antara Dedi dan tokoh-tokoh di bawahnya tampak lebar dalam simulasi tersebut. Anies berada di urutan kedua dengan 10,3 persen, terpaut 25,2 poin persentase dari Dedi. Prabowo dan Gibran menyusul dengan angka yang lebih rendah, masing-masing 9,8 persen dan 8,4 persen.
Deni menyebut dukungan terhadap Anies dan Prabowo dalam simulasi ini relatif berimbang. Gibran juga berada dalam rentang yang berdekatan. “Bisa dikatakan Gibran dan Anies mengimbangi Prabowo,” kata Deni dalam pemaparan hasil survei.
Sejumlah nama lain memperoleh dukungan di bawah 3 persen. Agus Harimurti Yudhoyono tercatat 2,1 persen, Sherly Tjoanda Laos 1,8 persen, Mahfud MD 1,7 persen, Kaesang Pangarep 1,2 persen, dan Pramono Anung Wibowo 1 persen. Tokoh-tokoh lainnya berada di bawah angka tersebut.
Hasil ini merupakan potret pilihan responden ketika survei dilakukan, bukan hasil pemilihan umum. Simulasi semi-terbuka juga memberi ruang bagi responden untuk menyebut nama di luar daftar, sehingga angka yang tercatat menggambarkan respons terhadap pertanyaan dan pilihan yang disajikan saat itu.
Tren elektabilitas Prabowo dan Dedi
SMRC turut membandingkan angka Oktober dengan hasil pengukuran pada periode sebelumnya. Dalam data yang dipaparkan, elektabilitas Prabowo berada di 34,9 persen pada November 2025. Angka itu tercatat 33,3 persen pada Februari–Maret 2026, lalu turun menjadi 14,5 persen pada Juli dan 9,8 persen pada Oktober.
Di sisi lain, dukungan terhadap Dedi bergerak naik dalam rentang pengukuran tersebut. Dari 19,7 persen pada November 2025, angkanya menjadi 23,3 persen pada Februari–Maret 2026. Dedi kemudian meraih 35 persen pada Juli dan 35,5 persen pada Oktober 2026.
Deni mengatakan penurunan dukungan untuk Prabowo paling tajam terjadi antara Februari–Maret dan Juli 2026. “Hanya sekitar empat bulan, turun hampir 20 persen,” ujarnya. Ia menambahkan, dalam pengukuran Oktober belum terlihat pemulihan dibandingkan Juli.
Menurut Deni, kecenderungan itu sejalan dengan merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah. Pernyataan tersebut menjadi penjelasan SMRC atas tren yang terlihat dalam hasil survei, meski angka elektabilitas dan tingkat kepuasan merupakan ukuran yang berbeda.
Metode dan batas pembacaan hasil survei
Survei mencakup warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih, berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah. Total responden yang diwawancarai berjumlah 1.213 orang, terdiri atas 1.013 pemilik telepon genggam yang dipilih dengan metode double sampling dan diwawancarai melalui telepon, serta 200 responden tanpa telepon genggam yang diwawancarai secara tatap muka.
Untuk kelompok tanpa telepon genggam, pemilihan sampel menggunakan metode stratified multistage random sampling. SMRC memperkirakan margin of error survei sebesar plus-minus 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi simple random sampling.
Angka-angka tersebut memberi gambaran tentang peta dukungan pada waktu pengumpulan data, sekaligus menunjukkan bahwa persaingan dalam simulasi ini tidak merata. Perubahan preferensi pemilih masih dapat terjadi; karena itu, perkembangan survei berikutnya akan menjadi penting untuk melihat apakah jarak dukungan antartokoh bertahan atau berubah.
