Emas Swasta di Singapura Tembus 800 Ton

Ekonomi

Singapura semakin menjadi tempat pilihan investor kaya dunia untuk menyimpan emas fisik. Kepemilikan emas investor swasta yang dititipkan di negara kota itu diperkirakan telah menembus 800 metrik ton pada 2025, meningkat sekitar 16 kali lipat dibandingkan 2014.

Investor dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Timur Tengah memindahkan sebagian emas mereka ke Singapura di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Kekhawatiran terhadap perang, tingginya utang pemerintah, serta ketidakpastian politik mendorong mereka mencari lokasi penyimpanan yang dinilai aman.

Tren tersebut berlanjut meski harga emas mengalami koreksi dari rekor tertingginya. Berdasarkan data Refinitiv, harga emas spot pada penutupan Rabu (21/10/2026) menguat 0,39 persen menjadi US$4.140,38 per troy ons, setelah sebelumnya mendekati level terendah dalam sepekan.

Investor mencari tempat penyimpanan jangka panjang

Estimasi J. Rotbart & Co., perusahaan perdagangan logam mulia, menunjukkan jumlah emas milik investor swasta di Singapura telah mencapai lebih dari 800 ton pada 2025. Sebagian besar pertumbuhan berasal dari investor Eropa yang makin tertarik memindahkan sebagian emas fisiknya ke Asia.

Perusahaan itu memperkirakan simpanan emas swasta di Singapura masih akan bertambah sepanjang 2026 hingga 2027. Arus aset dari investor kaya Eropa dan Amerika Serikat diperkirakan menjadi salah satu pendorongnya.

Manish Tibrewal, salah satu pendiri Farro Capital, mengatakan perpindahan tersebut bukan hanya dilakukan oleh keluarga kaya yang telah lama memiliki emas fisik. Ada pula keluarga yang sebelumnya belum pernah membeli emas, tetapi kini mulai berinvestasi melalui bank swasta atau perusahaan perdagangan logam mulia, dengan emasnya disimpan di Singapura.

“Keluarga kaya lama yang sebelumnya menyimpan emas fisik di yurisdiksi lain kini memindahkan sebagian kepemilikannya ke Singapura,” ujar Tibrewal, dikutip dari Bloomberg.

Bagi investor yang berniat menyimpan emas selama puluhan tahun, pilihan lokasi tak hanya ditentukan oleh fasilitas penyimpanan. Keamanan aset, kepastian hukum, serta kondisi ekonomi dan fiskal negara ikut menjadi pertimbangan.

Stabilitas Singapura jadi daya tarik

Gregor Gregersen, pendiri perusahaan penyimpanan logam mulia The Reserve, mengatakan kekhawatiran terhadap perang, tekanan ekonomi, dan stabilitas fiskal di sejumlah negara membuat investor mempertimbangkan lokasi alternatif.

“Orang yang ingin menyimpan emas dalam jangka panjang, selama 30 atau 40 tahun, biasanya mencari negara yang kaya, tidak menghadapi ancaman krisis sistem pensiun, dan memiliki pertahanan yang kuat. Singapura memenuhi kriteria tersebut,” ujarnya kepada Bloomberg.

Nicky Shiels dari perusahaan perdagangan dan pemurnian logam mulia MKS Pamp menyebut Singapura sebagai “Jenewa dari Timur”. Menurut dia, negara tersebut memiliki reputasi sebagai yurisdiksi yang aman, dengan stabilitas politik dan ekonomi yang relatif kuat.

Faktor geografis turut berperan. Dengan menempatkan sebagian aset di luar negara asal, investor dapat mengurangi risiko menumpuk kekayaan hanya di satu wilayah atau yurisdiksi. Bagi pemilik aset dalam jumlah besar, penyebaran lokasi penyimpanan menjadi salah satu cara mengelola risiko.

Permintaan mendorong bisnis penyimpanan emas

Meningkatnya minat investor ikut membuka peluang bagi perusahaan penyimpanan logam mulia di Singapura. The Reserve, misalnya, memiliki fasilitas enam lantai dengan luas sekitar 180.000 kaki persegi yang dibangun oleh Gregersen. Menurut perusahaan, kapasitasnya setara dengan sekitar 10 persen pasokan emas tahunan dunia dan 30 persen pasokan perak tahunan dunia.

Data The Reserve menunjukkan jumlah emas dalam program penyimpanannya meningkat tiga kali lipat sejak awal 2020. Pada September 2026, jumlahnya mencapai 8,6 ton. Sekitar 90 persen kepemilikan emas tersebut berasal dari nasabah asing.

J. Rotbart & Co. juga merasakan kenaikan minat. Richard Wang, pimpinan perusahaan itu di Singapura, mengatakan pertanyaan calon nasabah Barat melalui situs perusahaan meningkat tiga kali lipat dalam setahun terakhir. Minat terbesar datang dari Amerika Serikat, disusul Kanada, Inggris, dan Australia.

Indigo Precious Metals mencatat permintaan dari individu kaya di Eropa dan Amerika Serikat meningkat sekitar 25 persen dalam setahun terakhir. Angka-angka tersebut menggambarkan besarnya perhatian investor terhadap penyimpanan emas fisik di Singapura, sekaligus bertambahnya peran negara itu dalam rantai layanan logam mulia global.

J. Rotbart & Co. memperkirakan aliran emas ke Singapura akan berlanjut hingga 2027. Seberapa jauh pertumbuhan itu bertahan akan bergantung pada kekhawatiran investor terhadap kondisi global dan daya tarik Singapura sebagai tempat menyimpan aset dalam jangka panjang.