AirAsia Hadapi Tekanan, Tony Fernandes Temui Pejabat Malaysia

Ekonomi

Pendiri AirAsia Tony Fernandes bertemu pejabat Kementerian Keuangan dan Kementerian Transportasi Malaysia pada akhir September 2026, di tengah tekanan biaya bahan bakar yang membebani maskapai. Pertemuan itu memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan dukungan pemerintah, tetapi Fernandes membantah bahwa bantuan keuangan menjadi pokok pembicaraan.

Reuters melaporkan pada Senin (12/10/2026), mengutip tiga orang yang mengetahui persoalan tersebut, bahwa pembicaraan mencerminkan meningkatnya perhatian pemerintah terhadap kondisi keuangan AirAsia, maskapai domestik terbesar Malaysia. Dua sumber menyebut diskusi juga menyentuh kemungkinan dukungan pemerintah bagi upaya penggalangan dana, dengan sejumlah ketentuan yang masih dibahas.

Rincian mengenai bentuk dukungan maupun syarat yang disebutkan sumber itu belum diketahui secara jelas. Fernandes, yang hadir sebagai salah satu pendiri sekaligus penasihat maskapai, memberikan penjelasan berbeda dalam wawancara eksklusif dengan Reuters.

Fernandes bantah meminta bantuan keuangan

Fernandes mengatakan dirinya bertemu pejabat pemerintah atas permintaannya sendiri pada pekan yang dimulai 28 September. Menurut dia, pembicaraan berfokus pada biaya yang berkaitan dengan penerbangan, termasuk biaya bandara dan bahan bakar.

Ia menegaskan pertemuan tersebut bukan untuk meminta bantuan pendanaan. Fernandes juga menyatakan pemerintah tidak menyampaikan kekhawatiran mengenai pendanaan AirAsia kepadanya maupun menawarkan dukungan.

“Tidak ada pembahasan mengenai bantuan keuangan dengan pemerintah,” ujar Fernandes kepada Reuters.

Ia mengatakan pembicaraan dengan pejabat pemerintah bukan hal yang luar biasa. Karena itu, menurut Fernandes, pertemuan tersebut tidak semestinya langsung ditafsirkan sebagai pembahasan bantuan dana.

Fernandes menyatakan yakin AirAsia dapat melewati situasi sulit tanpa bantuan negara, seperti yang pernah dilakukan maskapai itu selama pandemi. Namun, ia mengatakan AirAsia tidak akan menolak bantuan apabila pemerintah menawarkan dukungan di negara tempat maskapai tersebut beroperasi, termasuk Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Kenaikan harga bahan bakar menekan AirAsia

Tekanan terhadap AirAsia terjadi saat ongkos bahan bakar pesawat meningkat tajam. Harga bahan bakar naik 66 persen pada kuartal kedua dibandingkan kuartal sebelumnya, dengan rata-rata mencapai US$183 per barel.

Kenaikan itu disebut dipicu konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Bagi maskapai berbiaya hemat seperti AirAsia, perubahan besar pada harga bahan bakar menjadi perhatian penting karena biaya tersebut berkaitan langsung dengan operasional penerbangan. Dalam pertemuan dengan pejabat Malaysia, Fernandes mengatakan pihaknya menyampaikan bahwa industri penerbangan sedang menghadapi masa sulit.

Di tengah kabar mengenai kondisi keuangan maskapai, kehadiran perwakilan Alton Aviation Consultancy dalam pertemuan turut menarik perhatian. Dua sumber yang mengetahui diskusi mengatakan perwakilan konsultan tersebut ikut hadir.

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Kementerian Keuangan Malaysia menunjuk Alton untuk menilai kebutuhan pendanaan AirAsia yang sedang merugi. Namun, kementerian, Kementerian Transportasi Malaysia, dan Alton tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters mengenai pertemuan itu.

Pemerintah disebut menyiapkan skenario pasar

Pertemuan Fernandes berlangsung setelah laporan Reuters pada bulan sebelumnya menyebut pemerintah Malaysia menanyakan kepada Malaysia Airlines dan Batik Air apakah keduanya sanggup mengambil alih pangsa pasar domestik AirAsia. Pertanyaan itu, menurut laporan tersebut, merupakan bagian dari perencanaan skenario ketika otoritas memantau kondisi keuangan maskapai.

Informasi mengenai penjajakan itu menambah perhatian terhadap posisi AirAsia di pasar penerbangan domestik. Namun, laporan tersebut tidak menyatakan bahwa pengambilalihan pangsa pasar telah terjadi. Kementerian Keuangan Malaysia sendiri menolak berkomentar mengenai pembicaraan yang dilaporkan berlangsung dengan Fernandes.

Dengan demikian, kabar mengenai potensi dukungan pemerintah masih bertumpu pada keterangan sejumlah sumber yang dikutip Reuters, sementara Fernandes menyangkal bahwa ia membahas bantuan keuangan atau meminta pendanaan. Belum ada rincian resmi mengenai ketentuan dukungan yang disebut dalam laporan tersebut.

Perkembangan berikutnya akan bergantung pada langkah AirAsia menghadapi lonjakan biaya serta hasil pembicaraan yang masih belum terbuka. Untuk saat ini, pernyataan Fernandes menunjukkan maskapai ingin menegaskan keyakinannya dapat bertahan, meski tekanan industri dan perhatian pemerintah terhadap kondisi keuangannya terus menjadi sorotan.