Rahayu Saraswati Mundur, Janji 20% Saham TRIN Disorot

Ekonomi

Rahayu Saraswati Djojohadikusumo akan mundur dari jabatan komisaris utama Perintis Triniti Properti (TRIN) setelah sekitar 10 bulan menjabat. Rencana pengunduran diri keponakan Presiden Prabowo Subianto itu kembali menyorot komitmen kepemilikan saham 20 persen yang pernah disampaikan, sementara porsi sahamnya tercatat masih di bawah 5 persen.

Kabar rencana mundur tersebut muncul ketika saham TRIN tengah tertekan. Pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, saham perusahaan properti itu turun 14,29 persen atau 34 poin ke Rp204 per lembar, menurut laporan EmitenNews.

Saham TRIN merosot di tengah kabar pengunduran diri

Tekanan terhadap saham TRIN tidak hanya terlihat dalam satu hari perdagangan. Dalam sebulan hingga 9 Oktober 2026, harganya disebut merosot 50,24 persen, setara 206 poin, dari posisi Rp410 pada 10 September 2026.

Sejak awal tahun, penurunannya lebih dalam. Saham TRIN tercatat ambles 83,68 persen atau 1.046 poin dibandingkan level sekitar Rp1.250 pada 2 Januari 2026. Dalam rentang 52 minggu, saham tersebut pernah menyentuh harga tertinggi Rp1.975 dan terendah Rp195.

Dengan harga terakhir yang disebut dalam laporan itu, kapitalisasi pasar TRIN berada di Rp928,50 miliar. Rasio harga terhadap laba atau price earning ratio (PER) tercatat 47,32. Data tersebut menggambarkan tekanan yang terjadi pada saham perusahaan, tetapi tidak menjelaskan penyebab tunggal pergerakannya.

Rencana Saraswati meninggalkan kursi komisaris utama juga menghidupkan kembali perhatian pada dinamika kepemilikan saham TRIN. Namun, informasi yang tersedia tidak menyebut alasan pengunduran dirinya ataupun tanggal efektifnya. Karena itu, rencana mundur tersebut perlu dibedakan dari keputusan yang telah resmi berlaku.

Komitmen kepemilikan 20 persen dipertanyakan

Dalam laporan tersebut, Saraswati disebut sebelumnya berkomitmen mengambil porsi 20 persen saham TRIN. Akan tetapi, porsi kepemilikannya masih kurang dari 5 persen. Ia juga telah melakukan penjualan saham sebelum rencana mundur dari jabatan komisaris utama mencuat.

Pada Maret 2026, Bursa Efek Indonesia disebut menyoroti aksi Saraswati melepas sebagian saham TRIN. Transaksi yang dimaksud dilakukan melalui Raksaka Satya Devya, yang mendivestasikan 48,97 juta saham lewat pasar negosiasi.

Direktur Utama Perintis Triniti Properti Ishak Chandra kala itu menyatakan transaksi tersebut merupakan langkah penataan struktur kepemilikan saham. Ia menegaskan, pengalihan saham kepada Sukses Sejati Sejahtera tidak berkaitan dengan perubahan komitmen pemegang saham utama dan tidak berdampak terhadap operasional maupun rencana pengembangan perseroan.

“Crossing saham milik Ibu Sara melalui mekanisme pasar negosiasi kepada Sukses Sejati Sejahtera, merupakan langkah strategis dalam rangka penataan struktur kepemilikan saham,” kata Ishak Chandra.

Pernyataan perusahaan tersebut memberi konteks atas transaksi pada Maret, tetapi belum menjawab bagaimana kelanjutan komitmen kepemilikan 20 persen yang disorot. Laporan yang menjadi sumber berita juga tidak memuat penjelasan terbaru dari Saraswati mengenai rencana pengunduran diri maupun porsi sahamnya.

Dua pemegang saham pengendali juga melepas saham

Sebelum kabar Saraswati mundur, dua pemegang saham pengendali TRIN, Kunci Daud Indonesia (KDI) dan Intan Investama Internasional (III), lebih dulu tercatat menjual saham. Masing-masing melepas 20 juta lembar, sehingga total saham yang dijual mencapai 40 juta lembar.

Transaksi kedua perusahaan itu dilakukan pada harga Rp400 per saham. Dari penjualan tersebut, KDI memperoleh dana Rp8 miliar, begitu pula III. Setelah transaksi, kepemilikan KDI berkurang dari 1,62 miliar saham atau 35,78 persen menjadi 1,6 miliar saham setara 35,35 persen.

III juga mengalami penurunan porsi kepemilikan. Saham yang tersisa dalam portofolionya tercatat 1,22 miliar lembar atau 26,84 persen, dari sebelumnya 1,24 miliar lembar setara 27,28 persen.

Serangkaian perubahan kepemilikan itu berlangsung ketika harga saham TRIN menurun tajam sepanjang tahun. Bagi investor, perkembangan berikutnya yang patut dicermati ialah kepastian status pengunduran diri Saraswati, penjelasan perusahaan tentang komitmen kepemilikan saham, serta keterbukaan informasi terbaru mengenai struktur pemegang saham. Hingga ada informasi resmi lanjutan, angka dan transaksi yang telah diumumkan menjadi pijakan untuk membaca situasi perusahaan.