Kopi dan Tulang Pascamenopause: Seberapa Besar Risikonya?

Kesehatan

Konsumsi kopi lebih dari lima cangkir sehari dikaitkan dengan kepadatan mineral tulang yang lebih rendah pada perempuan lanjut usia pascamenopause. Namun, penelitian Universitas Flinders yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients tidak menemukan hubungan serupa pada mereka yang minum dua hingga tiga cangkir per hari. Temuan ini menjadi perhatian, tetapi bukan alasan untuk langsung berhenti minum kopi.

Studi tersebut menganalisis kebiasaan minum kopi dan teh pada 9.704 perempuan berusia 65 tahun ke atas selama 10 tahun. Peneliti mengukur kepadatan mineral tulang atau bone mineral density (BMD), terutama di leher femur dan pinggul—dua bagian yang rentan mengalami patah tulang akibat osteoporosis.

Hasilnya menunjukkan konsumsi kopi dalam jumlah sangat tinggi berkaitan dengan BMD lebih rendah. Sebaliknya, konsumsi teh berhubungan dengan BMD pinggul total yang lebih tinggi. Para peneliti juga mencatat bahwa hubungan antara kopi dan BMD leher femur yang lebih rendah tampak lebih jelas pada perempuan dengan konsumsi alkohol lebih tinggi.

Jumlah konsumsi kopi menjadi perhatian utama

Perbedaan antara konsumsi sedang dan tinggi menjadi salah satu poin penting dalam penelitian ini. Perempuan yang minum dua hingga tiga cangkir kopi sehari tidak menunjukkan kaitan dengan dampak negatif terhadap kepadatan tulang. Sementara itu, hubungan dengan BMD lebih rendah terlihat pada konsumsi di atas lima cangkir per hari.

Temuan tersebut tidak membuktikan bahwa kopi secara langsung menyebabkan tulang melemah. Studi ini mengamati kebiasaan peserta dari waktu ke waktu, tanpa menugaskan mereka untuk minum kopi atau teh dalam jumlah tertentu. Karena itu, hasilnya menunjukkan asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat.

Ahli diet dan profesor adjunkt nutrisi di Universitas New York, Lisa Young, mengingatkan agar hasil penelitian ditafsirkan secara hati-hati. Perbedaan gaya hidup para peserta dapat ikut memengaruhi hasil. Penelitian juga berfokus pada kepadatan tulang, bukan pada jumlah patah tulang yang dialami peserta.

Efek yang ditemukan relatif kecil dan terutama terlihat pada perempuan lanjut usia. Dengan keterbatasan tersebut, temuan ini memberi petunjuk untuk diteliti lebih lanjut, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa perempuan pascamenopause perlu menghindari kopi.

Menopause dan meningkatnya risiko kehilangan tulang

Kesehatan tulang menjadi perhatian penting setelah menopause karena kehilangan massa tulang dapat berlangsung lebih cepat. Osteoporosis merupakan persoalan kesehatan masyarakat global. Sekitar satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia 50 tahun ke atas di seluruh dunia mengalami patah tulang terkait osteoporosis.

Salah satu penulis studi, Ryan Liu, menjelaskan bahwa kafein dalam kopi dalam penelitian laboratorium diketahui dapat mengganggu penyerapan kalsium dan metabolisme tulang. Namun, efeknya disebut kecil dan dapat diimbangi, misalnya dengan menambahkan susu ke dalam kopi.

Di sisi lain, kandungan katekin dalam teh dinilai dapat mendukung pembentukan tulang sekaligus memperlambat kerusakannya. Dalam studi ini, hubungan antara konsumsi teh dan kepadatan tulang yang lebih tinggi tampak lebih menonjol pada perempuan dengan obesitas. Meski demikian, peneliti tidak menganjurkan konsumsi teh dalam jumlah besar sebagai cara khusus untuk mencegah osteoporosis.

Langkah yang lebih terbukti untuk menjaga tulang

Pesan praktis dari penelitian ini bukanlah mengganti kopi dengan teh atau menghapus kopi dari kebiasaan sehari-hari. Konsumsi kopi dalam jumlah sedang dinilai masih dapat diterima, sementara asupan yang sangat tinggi mungkin perlu diperhatikan, terutama bagi perempuan yang juga mengonsumsi alkohol.

Young menekankan bahwa langkah yang lebih terbukti untuk menjaga kesehatan tulang adalah mencukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D, tetap aktif secara fisik, tidak merokok, serta menghindari konsumsi alkohol berlebihan. Kebiasaan-kebiasaan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga tulang seiring bertambahnya usia.

Bagi perempuan pascamenopause, hasil studi ini dapat menjadi pengingat untuk melihat pola hidup secara utuh, bukan hanya satu jenis minuman. Jika khawatir tentang kesehatan tulang atau kebiasaan konsumsi kopi, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi masing-masing.