Pendapatan Woori Finance Melonjak, Laba Dikabarkan Naik 90%

Ekonomi

PT Woori Finance Indonesia Tbk (BPFI) membukukan pendapatan Rp473,74 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, naik 42,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan pendapatan itu sejalan dengan kabar laba bersih perusahaan yang meningkat hampir 90 persen, sementara pemulihan piutang bermasalah ikut menopang kualitas aset.

Bisnis perusahaan pembiayaan ini mencakup pembiayaan konsumen, sewa alat berat dan kendaraan komersial, serta fasilitas modal kerja. Operasionalnya ditopang 26 bangunan kantor cabang yang tersebar di sejumlah kota strategis di Indonesia.

Dalam laporan yang dikutip, pendapatan BPFI berasal dari transaksi dengan pihak ketiga. Perusahaan juga disebut tidak bergantung pada satu pelanggan tertentu dan tidak mencatat pendapatan dari pihak berelasi.

Pembiayaan konsumen menjadi penopang pendapatan BPFI

Pembiayaan konsumen tetap menjadi sumber pendapatan terbesar BPFI. Segmen ini menghasilkan Rp253,92 miliar, tumbuh 34,61 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai tersebut telah dikurangi biaya transaksi langsung, di luar komisi agen asuransi.

Pendapatan administrasi mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 63,36 persen, menjadi Rp138,63 miliar. Pos ini terutama berasal dari biaya awal penandatanganan kontrak nasabah baru sebesar Rp121,89 miliar. Penerimaan denda keterlambatan menyumbang Rp8,50 miliar, sedangkan komisi asuransi tercatat Rp8,24 miliar.

Kenaikan pada dua sumber pendapatan utama itu memberi gambaran bahwa aktivitas kontrak baru dan pembiayaan konsumen berperan penting dalam pertumbuhan perusahaan. Namun, angka yang tersedia tidak merinci jumlah kontrak baru ataupun nilai pembiayaan yang disalurkan. Karena itu, kontribusi pertumbuhan dari sisi volume dan tarif tidak dapat dipisahkan berdasarkan informasi tersebut.

Segmen sewa pembiayaan alat berat dan mesin juga tumbuh 29 persen, dengan pendapatan Rp54,87 miliar. Sementara itu, fasilitas modal kerja melonjak 514,14 persen menjadi Rp14,31 miliar. Pertumbuhan modal kerja ini membantu mengimbangi penurunan pendapatan anjak piutang yang susut 58,04 persen menjadi Rp413,33 juta.

Pemulihan piutang ikut menopang kualitas aset

Di luar pendapatan dari lini bisnis utama, BPFI mencatat pemasukan lain-lain sebesar Rp11,59 miliar. Sebanyak Rp11,38 miliar di antaranya berasal dari kas yang berhasil ditarik melalui pemulihan piutang bermasalah. Perusahaan mengaitkan pemulihan itu dengan eksekusi dan pencairan aset jaminan milik nasabah yang sebelumnya kesulitan membayar.

Penagihan dan pemulihan piutang tersebut menjadi bagian penting dari upaya menjaga kualitas aset. Kabar mengenai penurunan kredit macet juga tercermin dalam judul laporan yang menjadi sumber informasi ini. Meski demikian, laporan yang tersedia tidak mencantumkan angka rasio kredit bermasalah atau besaran penurunannya, sehingga perubahan kualitas piutang belum bisa diukur secara rinci.

Judul laporan menyebut laba bersih BPFI naik hampir 90 persen. Namun, rincian yang tersedia tidak memuat nilai laba bersih, pembanding nominalnya, maupun uraian pos biaya yang memengaruhi kenaikan tersebut. Dengan demikian, besarnya pertumbuhan pendapatan dan penerimaan dari pemulihan piutang dapat diketahui, tetapi kontribusi masing-masing terhadap kenaikan laba belum dapat dipastikan.

Kinerja berikutnya bergantung pada pertumbuhan yang terjaga

Kinerja sembilan bulan pertama menunjukkan pertumbuhan di beberapa lini, tetapi pergerakannya tidak seragam. Pembiayaan konsumen dan sewa alat berat tumbuh, sedangkan anjak piutang menurun. Perkembangan fasilitas modal kerja yang meningkat tajam juga perlu dilihat bersama konsistensi penyaluran dan kualitas pembayaran pada periode berikutnya.

Bagi perusahaan pembiayaan, kenaikan pendapatan perlu berjalan beriringan dengan pengendalian risiko dan penagihan yang efektif. Data lanjutan mengenai laba bersih, rasio kredit bermasalah, serta perkembangan pendapatan per segmen akan membantu memberi gambaran lebih utuh tentang daya tahan kinerja BPFI. Investor dan pelaku industri dapat mencermati laporan berikutnya untuk menilai apakah pertumbuhan ini berlanjut tanpa mengorbankan kualitas aset.